Antara Lomba, Piala, Kerja sama, & Cita-Cita #CareerDay

Screenshot (106) Screenshot (108)

Seorang psikolog mengatakan, “Di usia dini, sebaiknya anak-anak diperkenalkan pada kolaborasi dan kerjasama. Bukan kompetisi.”

Penting sekali bagi anak-anak untuk menghargai keunikan dirinya dan temannya. Jika dari usia dini hawa kompetisi sudah terasa, maka anak-anak akan berkembang untuk bersaing. Padahal aspek kolaborasi dan kerjasama penting sekali untuk diasah sejak kecil.

Kira-kira begitu yang saya tangkap dari tulisan sang psikolog. Forgive me, saya lupa nama psikolognya, hihi.

Saya lebih senang saat anak saya perform dan bukan berlomba. Saat perfom, baik itu menari, nyanyi, ngaji, dan ditonton banyak orang, otomatis anak perlu belajar untuk berani, percaya diri dan menangani rasa malu/gugupnya.

Soft skill tersebut juga dibutuhkan dalam menjalani hidup ke depannya.

Sama hal-nya dengan lomba, anak-anak perlu menunjukkan soft skill yang baik. Bedanya dinilai, ada pengumuman dan saat pembagian piala, akan ada saja anak yang menangis karena tidak mendapatkannya.

Baca juga : SEPOTONG ES KRIM & TANGISAN

Saya akan ceritakan masa kecil saya sedikit. Dari mulai TK hingga SMA, saya sering ikut lomba. Waktu masih kecil, biasanya nenek/orang tua saya yang mendaftarkan saya ke berbagai lomba, sepert : peragawati, saritilawah, fashion show busana muslim, lomba pencak silat dan mewarnai.

Dari sekian banyak lomba, seringnya saya merasa mudah untuk menang walaupun tidak selalu juara I.

Selain itu, saya juga sering melakukan pertunjukkan, seperti menari balet di Teater Baranangsiang maupun mempertujukan pencak silat bunga dan disaksikan banyak orang.

Entah karena memang suka atau karena sudah sering ikut lomba, saya lanjut ikut lomba-lomba saat SMP dan SMA. Namun saya memilih lomba yang saya kuasai. Seperti story telling dan menyanyi. Selain itu, saya tetap perform, yaitu menari tradisional di berbagai acara.

Saya berkembang menjadi anak yang biasa ditonton oleh publik, I even like it!

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Uniknya, meskipun saya pernah mengikuti berbagai lomba, saya tidak begitu ingin mengikutikan Aisya ke lomba-lomba. Entahlah, konsep menang kalah yang kadang mengundang tangisan nampaknya saya anggap sebagai hal yang beresiko untuk hati Aisya (dan saya).

Dan karena saya lebih menyukai konsep performing yang memadukan antara keberanian, percaya diri dan kolaborasi.

Aisya sudah pernah perform, ia menari bersama anak-anak lain di Gathering ITBMotherhood dimana anak-anak ini harus belajar kompak, dan mengingat gerakan tariannya.

Screenshot (109) Screenshot (110)

Anak-anak berlatih di depan cermin, its really fun! Teh Inday sangat piawai dalam melatih gerakan, bikin anak nyaman di ruangan dan saat istirahat diselingi dengan permainan-permainan yang membuat mereka semakin akrab.

Hari H, anak-anak semangat sekali menari di atas panggung diiringi lagu “Aku Bisa”. Usai perform, anak-anak ini masuk ke backstage dan masing-masing diberi bingkisan. All happy. Oia videonya bisa dilihat disini ya Aku Bisa “Hari Ibu”

Awalnya saya tertarik, saat guru di sekolah mengatakan akan diadakan Career Day dan anak-anak boleh memakai kostum profesi yang mereka inginkan. Namun ketika gurunya menambahkan bakal ada Lomba Fashion Show, saya langsung deg-deg-an.

“Apa ngga pawai/parade aja, Bu dan ngga dilombakan?” tanya saya. Dan gurunya menjawab, awalnya akan ada parade dulu baru lomba.

Qodarullah, Aisya suka ikut lomba. Tapi lomba yang pernah diikuti hanya skala sekolah dan lingkungan rumah seperti lomba 17-an. Itu juga saya pulang lebih awal tanpa menunggu pengumuman (kabuuur).

Lalu saya tanya pada anak saya, “Jasmine profesinya mau apa? desainer aja ya?” tanya saya, maklum emak hemat pengennya ga beli/sewa kostum. Jadi terpikir memadu-padankan pakaian yang ada di lemari saja.

Koordinator orang tua murid di kelas juga sempat memberi ide, “Jadi traveler aja Jasmine. Nanti bawa kamera pocket dan topi pantai,”. Wah boleh juga nih idenya.

Buuut, Jasmine maunya jadi dokter.

Hmm, berhubung masih istirahat di rumah pasca demam (Jasmine-nya), saya yang tidak bisa bawa motor jauh-jauh minta tolong ke kakeknya untuk membeli jas dokter cilik di Kosambi. Alhamdulillah dapat info dari grup Ibu-ibu ada jas dokter yang harganya sangat terjangkau di Kosambi (lebih murah dari online shop yang kisarannya 100rb-an).

Pas datang, ternyata jas-nya kebesaran. Well, it gives me an idea untuk bikin jas kedodorannya terlihat seperti long blazer. Saya jahit bagian belakang sedikit, melipat bagian lengan yang kepanjangan, membuat lambang palang merah dari kertas lipat kemudian ditempel ke saku dan menyematkan name tag “DOKTER JASMINE” di sisi kanan baju.

Saya pilihkan ia over all berwarna kuning cerah, kerudung bunga-bunga, memakaikan kacamata lucu dan melengkapi tampilannya dengan sepatu kaca plastik yang menyala ketika diinjak.

And she ready to go!

Sebenarnya hari itu Jasmine agak moody, namun sampai sekolah, ketemu teman-teman, ceria lagi deh Alhamdulillah. Teman-teman di sekolah memakai kostum yang lucuuu-lucuuu, gagah, unik, bikin gemeees 🙂

Seusai parade, ada Bapak dan Ibu Polisi yang memberi penyuluhan. Anak laki-laki yang memakai pakaian polisi sontak antusian dan ramai-ramai foto bersama. Terus, datang Ibu Dokter yang membawa peralatan dokter, anak-anak banyak sekali yang bertanya.

Screenshot (112) Screenshot (107)

Nah beres parade dan penyuluhan, lomba fashion show-nya dimulai. Yang pertama lomba adalah anak-anak kober.

Sambil menunggu giliran, saya dekati Jasmine, “Masih mau ikut lomba?” tanya saya. Jasmine mengangguk.

“Kalau gitu, nanti senyum ya pas fashion show. Jangan lupa salam. Tapi yang terpenting Jasmine have fun aja ya sama teman-teman,” pesan saya. Aaah I just want her to enjoy walking in catwalk and play with her friends..

Saat tiba giliran Jasmine, tentunya saya beri support. She seem shy, still smiling but not making any pose or turning around. Salam juga engga sama jurinya padahal bu guru sudah kasih arahan untuk menyalami juri.

ia bilang, “Jasmine malu Mami. Dilihat sama orang-orang yang Jasmine belum kenal. Ibu-ibunya banyak banget tadi,”. Saya katakan tidak apa-apa dan minta ia bermain lagi dengan teman-temannya.

When it comes to playing, feelingnya kembali positif. Di kelasnya hampir semua anak perempuan jadi dokter, hanya ada seorang yang jadi koki. Anak laki-lakinya ada yang jadi polisi, tentara, pilot. So I think, they playing a role, and that’s good.

Menjelang dzuhur, sudah banyak yang pulang. Jasmine masih asik bermain dengan Liam. Kejar-kejaran, manjat-manjat, naik perosotan, ayunan. Saya biarkan saja. Saya memang tipe Ibu yang senang saat Jasmine bermain dengan bahagia bersama temannya.

Menurut saya, bermain dengan teman yang sebaya itu sehat untuk kebutuhan jiwanya.

Dan tiba-tiba terdengar suara mic. Wah bakal ada pengumuman pemenang nih. Saya kira tidak akan diumumkan hari itu.

Bu guru mengajak siswa kelas yang tersisa, Jasmine dan Liam untuk mendengarkan pengumuman. I told Jasmine, kalau tidak menang gapapa yaa. Untungnya Jasmine sudah hafal theme song Asian Games.

Ia pun bernyanyi, “Kalau menang itu prestasi, kalau kalah jangan frustasi. Kalau menang solidaritas, kalau kalah sportifitas,”.

Saya acungi jempol, baguuus kalau pun kalah kita sportif aja yaa.

Pemenang Kober sudah diumumkan. Ada beberapa kategori dan saya tidak begitu memperhatikan.

Tiba-tiba, “Jasmine. Ayo Jasmine maju ke depan,” ucap MC. Saya, gurunya dan Jasmine beradu pandang. Jasmine yang dipangku oleh gurunya diajak berdiri. Rasanya kami bertiga tidak menyangka kalau Jasmine akan memenangkan kategori Juara Ter-Keren haha.

It’s simply because saya lihat yang lain banyak yang kostumnya lebih oke, kece, totalitas.

Saya ucapakan selamat pada Jasmine dan memeluknya. Jasmine menggengam pialanya dan bertanya, “Kok Jasmine yang menang?”

Gurunya menjawab, “Karena Jasmine tadi berani saat jalan di catwalk dan senyum,”.

Ia menoleh ke saya. Untuk melengkapi jawaban Bu Guru, saya katakan, “Karena hari ini, untuk lomba kali ini, Allah mengizinkan Jasmine yang menang,”.

Hanya itu jawaban yang terlintas di kepala saya.

Kenapa Jasmine yang menang dan bukan temannya yang lain yang kostumnya lebih maksimal? saya tidak tahu. The only thing that I know is that Allah let her win.

“Allah Maha Baik ya Jasmine, yuk kita berterimakasih pada Allah. Alhamdulillah,” ucap saya.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring

Hikmah lain yang saya petik dari career day ini adalah, kadang saat anak-anak kita bercita-cita jadi apa, namun ketika dewasa cita-cita kita berubah. Saya pribadi memiliki cita-cita yang belum terwujud. Meski begitu saya tetap bahagia akan pilihan saya menjadi IRT, sambil menulis saat ini.

Dengan semua bekal ‘manggung’ saya, ketika kuliah akhirnya saya tahu mau berkarir di bidang apa. Public Speaking it is!

Saya sudah mantap menekuni bidang ini. Saya mulai siaran di radio dan menjadi pemandu acara untuk event internasional dan nasional. I enjoy being a Master Of Ceremony. Bahkan sempat apply untuk S2 di bidang Public Relations.

BUT. For now I can’t pursue it 🙂 Kini saya menikmati menghabiskan waktu di rumah, mengasuh anak, dan menulis. But who knows maybe one day I am awake, or set another goal. It’s never too old to reach a dream kan ya.

What I learn from this life is, bakat dan minat itu tidak cukup untuk membuat seseorang meraih impiannya. Harus ada konsistensi dan usaha yang gigih. Put a lot of effort to reach the dreams.

Untuk Jasmine, saya tidak akan mengatur ia harus jadi apa saat dewasa. Saat ini ia ingin jadi dokter, tapi kalau sudah besar Jasmine ingin jadi desainer, saya akan support. Mau jadi pengusaha, saya support. Mau jadi apa pun boleh, as long as she passionate about it.

Bahkan saat memilih jadi IRT, kita pun harus passionate menjadi IRT-nya 🙂

Karena saya melihat orang-orang sukses adalah orang yang menekuni apa yang menjadi passionnya. Konsisten mengasah dan membangun dirinya dalam passionnya. Be an expert di passionnya.

Okay, ini aja yang mau saya bagikan di #parentshare kali ini. Kalau Ibu-ibu dulu cita-citanya jadi apa, dan sekarang sudah tercapai belum? silakan sharing di komen yaa.

Hacked
Author: 
General web fan. Bacon geek. Explorer. Award-winning reader. Music junkie. Zombie aficionado.

Related Post "Antara Lomba, Piala, Kerja sama, & Cita-Cita #CareerDay"

SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI
Beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah Aisya
Berkomunikasi Dengan Anak
Akhir minggu ini kami memutuskan untuk mengajak
Fresh-Lovely Staycation At House Sangkuriang
Berhubung punya anak yang gemar berenang, tiap

Leave a reply "Antara Lomba, Piala, Kerja sama, & Cita-Cita #CareerDay"