SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Screenshot (105)

Beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah Aisya minta dibelikan es krim. Saya bilang, “Boleh sayang beli es krim,TAPI kalau sudah ngga pilek ya.”

“Ngga mau! Mau sekarang!” ucapnya.

“Kalau sekarang kan masih flu, nanti ya kalau sudah sembuh kita beli es krim,” saya bujuk lagi.

“Mami kok gitu? Mami kok jahil sama Aisya?” protesnya.

“Mami ngga jahil, justru Mami sayang sama Aisya. Kalau sekarang Mami belikan es krim, nanti makin banyak ingusnya. Kalau Mami jahil ya Mami belikan aja supaya Aisya tambah meler,” saya coba beri pengertian.

Aisya keukeuh ingin es krim, bahkan saat naik motor pun badannya goyang-goyang ke kiri dan kanan sambil nangis dan teriak. Saya mencoba menyikapinya dengan tenang, “Aisya boleh teruskan nangisnya di rumah ya. Sekarang kita lagi di motor, berbahaya kalau Aisya goyang-goyang. Dan kalau Aisya teriak nanti dikira Mami nyulik Aisya.”

Tangisnya tidak berhenti, sampai rumah masih merengek, “Kenapa Mami ga belikan es krim? Biasanya kalau Aisya nangis Mami belikan,”.

Gumaman Aisya menyadarkan saya kalau tangisannya ia gunakan sebagai ‘senjata’. Logikanya sudah berjalan dengan cukup baik. ketika masuk akhirnya perhatiannya teralihkan. Dan Aisya sudah tidak membahas es krim lagi.

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

Saya pun mencoba merefleksikan kejadian hari itu. Saya sedang mencoba konsisten terhadap ucapan saya. Beli es krim boleh saat kondisi tubuh sedang sehat, kalau lagi flu jangan dulu.

Tapi di sisi lain saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘Apakah bersikap konsisten itu harus terlihat menyiksa anak?’ Sampai anak ceurik ngagoak bahasa sundanya mah. Ada ngga sih cara yang lebih baik dalam mempertahakan sebuah rule agar meminimalisir air mata? hihi. (Yaa, karena baru kali ini Aisya nangis seperti itu di jalan dan cukup mengirishati saya. Sampai-sampai saya berpikir kenapa nggak saya kabulkan saja yaa permintaannya).

Alhamdulillah esoknya saya berkesempatan sharing sama teh @fetri_ayyasha dan beliau bilang, saat kita menerapkan teori parenting perlu lihat sikon juga. Ternyata kita tidak bisa menelan apa yang kita baca mentah-mentah lalu mengaplikasikannya, harus menyesuaikan dengan factual condition juga.

Pas main ke rumah Icha (teman di sekolah, anak dari teh Fetri), lagi-lagi Mamang es krim lewat. Saya sudah sounding lagi ke Aisya untuk tidak beli es krim. Tapi Aisya melihat temannya beli.

Berkaca pada kejadian kemarin, saya pun memikirkan win win solution. Saya katakan, “Okay, boleh makan es krim tapi sedikiiit yaa. Atasnya saja,”.

Entah karena soundingnya berhasil atau memang sudah kenyang, Aisya hanya makan setengah batang es dung-dungnya. Saya lega, cara ini lebih efektif ketimbang cara sebelumnya.

Esok paginya, saya mencoba sounding lagi pada Aisya. “Aisya, nanti pulang sekolah kan mau main ke rumah teman lagi, jadi ngga beli es krim ya. Kita langsung ke rumah teman Aisya aja ya!”.

Aisya mengiyakan tanpa berargumen terlebih dahulu. Dan saat pulang sekolah pun tidak ada drama es krim lagi. Aisya berpegangan dengan temannya dan bermain bersama di rumah temannya ini.

Baca juga :

7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Dari kejadian ini saya belajar bahwa sounding ke anak itu tidak bisa sekali jadi atau tiba-tiba dengan harapan anak akan langsung menuruti perkataan/permintaan kita.

Sounding pada anak perlu dilakukan beberapa kali juga harus bertahap.

Seperti cara saya agar Aisya tidak membeli es krim saat masih flu. Dengan memberi keringanan dan diskusi yang panjang (yang tentunya menguras emosi) akhirnya Aisya mau memahami kenapa harus puasa makan es krim dulu jika kondisi tubuh belum fit.

Pengalaman ini jadi bekal yang saya bawa di hari-hari berikutnya. Saya belajar lebih sabar dalam memberi pengertian, dengan intonasi yang diusahakan halus. Salah satunya sounding dalam rangka membujuk Aisya supaya mau minum obat penurun panas ketika demam.

Aisya menolak minum obat karena pahit, lalu saya jelaskan, “Memang agak pahit, tapi ada rasa anggurnya juga kan dan Aisya tahu kan ini supaya Aisya cepat sembuh. Kalau sudah sembuh boleh beli es krim lagi,”.

“Teman-teman Aisya juga saat sakit minum obat. Aisya juga pasti berani minum obat,”.

“Okay, sekarang Mami beri pilihan, mau diminum sedikit-sedikit trus minum air mineral atau sekali teguk lalu minum banyak air?”, saya beri ia pilihan yang goal-nya itu sama-sama minum obat dan tidak ada opsi tidak minum obat.

“Mami sayang sama Aisya, Mami ingin Aisya sembuh,”.

Terus-terus sounding, prosesnya cukup memakan waktu (serta emosi) namun berhasil juga membuat Aisya memegang sendiri cup berisi sirup pereda demam dan menelannya hingga tersisa sedikit lalu menyedot aqua gelas. Subhanallah.

Told her at the begining, “Mami mau Aisya minum obat tapi dengan persetujuan Aisya,”. Saya tidak mau memaksa, saya minta ia berhenti menangis dulu saat mau minum obat, mengelus dada dan mengarahkannya untuk menarik nafas dan membuangnya beberapa kali dulu sampai ready minum obat.

Dan ternyata saat minum obat ia tenang, tidak ada gerakan ingin memuntahkan, malah rileks Aisyanya.

Rasa obat tidak seburuk perkiraan Aisya, dan minum obat tidak perlu seperti dicekokin (saya hanya minta Aisya minum obat jika diperlukan, bila batuk pilek biasanya di-boost dari buah-buahan).

And its done, just like that. Mood Aisya kembali baik dan saya membacakan cerita yanglucu untuk mengantarnya tidur. Ia menyimak, tertawa lalu terlelap. Alhamdulillah.

Hacked
Author: 
General web fan. Bacon geek. Explorer. Award-winning reader. Music junkie. Zombie aficionado.

Related Post "SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI"

Antara Lomba, Piala, Kerja sama, & Cita-Cita #CareerDay
Seorang psikolog mengatakan, “Di usia dini, sebaiknya
Berkomunikasi Dengan Anak
Akhir minggu ini kami memutuskan untuk mengajak
Fresh-Lovely Staycation At House Sangkuriang
Berhubung punya anak yang gemar berenang, tiap

Leave a reply "SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI"